KESIAPAN MENGHADAPI TANTANGAN (ADVERSITY QUOTIENT)

aq_logo3

aq

          Salah satu makhluk ciptaan Allah Swt. adalah manusia. Setiap individu manusia itu pasti memiliki perbedaan, baik perbedaan yang tampak secara fisik maupun perbedaan yang tampak dari sisi kepribadiannya. Perbedaan dari sisi kepribadian bisa sangat berpengaruh terhadap sikap setiap individu. Jika kita lihat pengertian kepribadian menurut ahli adalah

kepribadian sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri-ciri kas dan prilaku seseorang. Pola berarti sesuatu yang sudah menjadi standar atu baku, sehingga kalau di katakan pola sikap, maka sikap itu sudah baku berlaku terus menerus secara konsisten dalam menghadapai situasi yang di hadapi –Schever Dan Lamm(1998) 

Maka dari itu pengaruh sikap dari kepribadian salah satunya terdapat pada “Bagaimana sikap kesiapan seorang individu dalam menghadapi tantangan (Adversity Quotient)”.

Jalan Kaki           Selama waktu terus berjalan, maka selama itu pula tantangan akan terus ada. Begitu pula di kehidupan perawat yang hari-harinya akan terus dihadapi oleh tantangan. Oleh sebab itu, perawat sebagai individu yang telah dikaruniai akal dan pikiran oleh sang pencipta dituntut untuk terus mengembangkan kepribadiannya. Tidak hanya perawat yang dituntut untuk mengembangkan kepribadian, tetapi juga seluruh individu manusia. Karena dari pengembangan kepribadian itu nantinya akan tumbuh sikap positif khususnya pada sikap kesiapan seseorang dalam menghadapi tantangan yang ada.

PENGERTIAN “KESIAPAN MENGHADAPI TANTANGAN (ADVERSITY QUOTIENT)”

a          Selanjutnya kita akan membahas pengertian dari Adversity Quotient(AQ) itu sendiri. Adversity berasal dari bahasa inggris yang artinya kesulitan, kesengsaraan, atau kemalangan. Tetapi jika diartikan menurut Rifameutia (Reni Akbar Hawadi, 2002: 195) istilah adversity dalam kajian psikologi didefinisikan sebagai tantangan dalam kehidupan. Pengertian secara utuh menurut Nashori (2007: 47) bahwa:

Adversity Quotient adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan kecerdasannya untuk mengarahkan, mengubah cara berfikir dan tindakannya ketika menghadapi hambatan dan kesulitan yang bisa menyengsarakan dirinya.

Disimpulkan juga secara singkat oleh ahli lain yang menyatakan:

Adversity Quotient sebagai kemampuan seseorang untuk menghadapi masalah –Leman (2007: 115).

Ahli yang mengenalkan pertama kali Adversity Quotient ini juga berpendapat:

Adversity Quotient adalah suatu kemampuan untuk mengubah hambatan menjadi suatu peluang keberhasilan mencapai tujuan –Stoltz (2000).

Hasil dari tercapainya tujuan nantinya akan menjadi kesuksesan bagi individu itu sendiri. Menurut Stoltz(2000: 12) AdversityQuotient tersebut dapat terwujud dalam tiga bentuk, yaitu:

  1. Kerangka kerja konseptual yang baru untuk memahami dan meningkatkan semua segi kesuksesan.
  2. Suatu ukuran untuk mengetahui respon seseorang terhadap kesulitan, dan
  3. Serangkaian alat untuk memperbaiki respon seseorang terhadap kesulitan.

         Jadi, dari beberapa pendapat ahli dapat kita simpulkan bahawa Adversity Quotient merupakan kesiapan setiap individu dalam menghadapi masalah, tantangan, hambatan, serta kesulitan. Kesiapan tersebut bisa menggunakan kecerdasan yang dimiliki setiap individu yang nantinya akan mencapai keberhasilan suatu tujuan berupa kesuksesan.

             Untuk lebih mudah memahami adversity quotient bisa dengan contoh cerita seperti berikut:

              “Ada dua orang perawat di suatu Rumah Sakit X. Mereka mendapat tantangan yang sama berupa pasien yang sedang menderita penyakit Y dan tingkah laku si pasien tersebut sangat menguji kesabaran kedua perawat itu. Dari awal di hadapkan dengan pasien, sudah terlihat respon yang berbeda dari setiap individu perawat itu. Perawat pertama merasa tidak sanggup merawat pasien yang ia hadapi sehingga ia hanya merawat pasien tersebut dengan seadanya dan ia menyerah begitu saja tanpa ada usaha untuk bisa merawat pasien itu dengan baik. Itu karena dari awal dipikirannya sudah tertanam “sepertinya aku tidak bisa dan aku tidak mungkin bisa merawatnya dengan baik”. Sedangkan perawat kedua tidak mengatakan bahwa ia tidak bisa merawat pasiennya dengan baik, tetapi ia sadar akan kekurangannya sebagai manusia yang tidak boleh mengatakan tidak bisa sebelum mencoba. Oleh sebab itu ia berusaha mencari bantuan/bimbingan perawat lain yang lebih senior dan paham untuk membantunya agar dapat merawat pasien tersebut dengan sangat baik. Akhirnya ia bisa merawat pasien itu dengan baik hingga pasien sembuh. Karena mahasiswa kedua itu dari awal sudah mempunyai prinsip bahwa “Jangan pernah menyerah sebelum berusaha. Pasti ada hasil yang memuaskan bagi orang yang ingin bersungguh-sungguh”.

          Dapat disimpulkan bahwa dari kedua perawat tersebut ada peredaan yang nyata dari tingkat kesiapan dalam menghadapi tantangan yang ada. Perawat kedua jauh lebih memiliki kesiapan yang tinggi dibandingkan dengan perawat yang pertama.

DIMENSI – DIMENSI “KESIAPAN MENGHADAPI TANTANGAN (ADVERSITY QUOTIENT)”

1368906836_spinning-wheel-illusion          Menurut Stoltz (2000), Adversity Quotient memiliki empat dimensi yang bisa disingkat dengan CORE yang dapat meningkatkan kemampuan kesiapan dalam menghadapi tantang, yaitu:

  • Control (C)

Conceptual keyboard - Control (blue key)Tujuan dari dimensi control ini adalah untuk mengukur seberapa besar kemampuan seorang individu dalam menghadapi tantangan serta meyelesaikan kesulitan/hambatan yang dihadapinya. Semakin tinggi tingkat control suatu individu, maka akan semakin tinggi pula rasa yakin dari individu tersebut untuk tetap teguh dan tidak akan menyerah terhadap tantangan yang dihadapinya. Individu dengan tingkat control yang tinggi juga akan selalu berpikir bahwa ia selalu punya cara untuk menghadapin kesulitan/hambatan/tantangan.

  • Origin and Ownership (O)

origin_logoDimensi origin lebih berfokus pada siapa/apa yang menyebabkan tantangan/kesulitan yang ada serta sejauh mana individu itu menganggap dirinya sebagai penyebab kesulitan bagi dirinya sendiri. Untuk individu yang memiliki adversity quotient yang tinggi, ia tidak akan merusak semangat di dalam dirinya dengan menyalahkan diri sendiri atau menganggap bahwa semua hambatan/kesulitan/tantangan berasal dari dirinya.

ownershipDimensi ownership bertujuan agar suatu individu dapat berlapang dada mengakui bahwa kesulitan/tantangan/hambatan yang ada berasal dari dirinya dan bagaimana individu tersebut dapat memandang pengakuan itu sebagai rasa tanggung jawab. Individu yang memiliki adversity quotient yang tinggi akan membuat dirinya lebih bertanggung jawab.

  • Reach (R)

social-reach-2Dimensi ini lebih memandang pada sejauh mana kesulitan/hambatan/tantangan yang ada mempengaruhi sisi lain dari kehidupan individu tersebut. Individu yang memiliki adversity quotient yang tinggi tidak tinggal diam melihat tantangan/kesulitan tadi mempengaruhi sisi kehidupannya yang lain.

  • Endurance (E)

ENDimensi endurance lebih melihat seberapa lama kesulitan/tantangan itu berlangsung. Daya tahan individu bisa menimbulkan penilaian tersendiri terhadap situasi baik/buruk saat itu. Bagi individu yang memiliki adversity quotient yang tinggi akan akan terus mempunyai harapan dan optimis untuk menghadapi/menyelesaikan tantangan yang ada.

KATEGORI – KATEGORI “KESIAPAN MENGHADAPI TANTANGAN (ADVERSITY QUOTIENT)”

          Stoltz mengelompokkan orang ke dalam tiga kategori, yaitu quitter (Adversity Quotient rendah), camper (Adversity Quotient sedang), dan climber (Adversity Quotient tinggi)

No. Kategori Penjelasan
1. Quitter (Adversity Quotient rendah)

         Seseorang dikategorikan Quitter jika ia lebih cenderung menghindari tantangan, berkerja/belajar seadanya, serta memilih mundur jika mendapat tantangan / kesulitan, hambatan. Pribadi individu Quitter ini juga tidak memiliki kontribusi jika berada di dalam suatu forum/kelompok dan tidak mempunyai visi dan misi masa depan untuk hidupnya.

 The-Quitter
2. Camper (Adversity Quotient sedang)

          Seseorang dikategorikan Camper jika ia cenderung sering merasa cepat puas/cukup, tidak ingin mengambil resiko yang besar, serta tidak belajar/bekerja dengan maksimal. Pribadi individu Camper ini tidak mau melakukan perubahan terhadap dirinya, memiliki sedikit usaha, sedikir inisiatif, sedikit semangat, dan selalu mengabaikan kemungkinan – kemungkinan yang akan terjadi nantinya.

 travelling-dengan-cara-yang-tidak-biasa
3. Climber (Adversity Quotient tinggi)

          Seseorang dikategorikan Climber jika ia cenderung terus berusaha dan berpikir. Ia juga selalu memikirkan kemungkinan – kemungkinan yang akan terjadi serta memiliki kontribusi yang tinggi terhadap kelompok. Pribadi Climber juga menerima dengan baik segala tantangan, selalu semangat, dan terus berusaha, bekerja dengan visi misi serta inisiatif yang ada demi mewujudkan segalanya.

 climber

FAKTOR PEMBENTUK “KESIAPAN MENGHADAPI TANTANGAN (ADVERSITY QUOTIENT)”

faktor-kali

          Faktor-faktor pembentuk adversity quotient menurut Stoltz (2000:92) adalah sebagai berikut:

  • Daya saing

          Seligman (Stoltz, 2000: 93) berpendapat bahwa adversity quotient yang rendah dikarenakan tidak adanya daya saing ketika menghadapi kesulitan, sehingga kehilangan kemampuan untuk menciptakan peluang dalam kesulitan yang dihadapi.

  • Produktivitas

        Penelitian yang dilakukan di sejumlah perusahaan menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara kinerja karyawan dengan respon yang diberikan terhadap kesulitan. Artinya respon konstruktif yang diberikan seseorang terhadap kesulitan akan membantu meningkatkan kinerja lebih baik, dan sebaliknya respon yang destruktif mempunyai kinerj yang rendah.

  • Motivasi

          Penelitian yang dilakukan oleh Stoltz (2000: 94) menunjukkan bahwa seseorang yang mempunyai motivasi yang kuat mampu menciptakan peluang dalam kesulitan, artinya seseorang dengan motivasi yang kuat akan berupaya menyelesaikan kesulitan dengan menggunakan segenap kemampuan.

  • Mengambil resiko

         Penelitian yang dilakukan oleh Satterfield dan Seligman (Stoltz, 2000:94) menunjukkan bahwa seseorang yang mempunyai adversity quotient tinggi lebih berani mengambil resiko dari tindakan yang dilakukan. Hal itu dikarenakan seseorang dengan adversity quotient tinggi merespon kesulitan secara lebih konstruktif.

  • Perbaikan

       Seseorang dengan adversity quotient yang tinggi senantiasa berupaya mengatasi kesulitan dengan langkah konkrit, yaitu dengan melakukan perbaikan dalam berbagai aspek agar kesulitan tersebut tidak menjangkau bidang-bidang yang lain.

  • Ketekunan

          Seligman menemukan bahwa seseorang yang merespon kesulitan dengan baik akan senantiasa bertahan.

  • Belajar

       Menurut Carol Dweck (Stoltz, 2000: 95) membuktikan bahwa anakanak yang merespon secara optimis akan banyak belajar dan lebih berprestasi dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki pola pesimistis.

          Secara keseluruhan dari penjelasan tentang Adversity Quotient diatas dapat disimpulkan hal-hal apa saja yang dapat membuat kita sebagai individu menjadi lebih siap untuk dihadapkan dengan tantangan/kesulitan, antara lain:

  1. Perjuangan
  2. Menjadikan semuanya positif
  3. Rajin
  4. Fokus
  5. Sabar
  6. Konsisten
  7. Seimbang
  8. Berdoa dan Sholat

DAFTAR PUSTAKA

http://psikologi.ub.ac.id/wp-content/uploads/2014/09/Jurnal.pdf

http://eprints.uny.ac.id/9771/1/BAB%201%20-%2007104244092.pdf.

http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/02/mahasiswa_dan_motivasi_berprestasi.pdf